No Buy 2025: Protes Kenaikan PPN atau Gaya Hidup Baru?

Extama – Dunia media sosial sedang ramai diperbincangkan sebuah tren unik bernama “No Buy 2025” tagar ini viral pada berbagai platform seperti Instagram, dan X (Twitter), ini memicu diskusi hangat di antara netizen.

Namun, apa sebenarnya tren ini, dan mengapa begitu banyak orang tertarik untuk ikut serta?

Apa Itu No Buy 2025?

Tahun 2025 belum dimulai, tetapi perbincangan hangat telah menyeruak pada media sosial tentang tren No Buy 2025.

Tagar #NoBuy2025 ramai menghiasi linimasa Instagram serta X (Twitter) sebagai respons masyarakat terhadap rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% yang mulai berlaku di tahun depan.

Apakah tren ini hanya menjadi tren sesaat, atau benar-benar akan berdampak pada perekonomian indonesia?

Melansir dari suara.com “No Buy 2025” adalah sebuah ide tren untuk diri sendiri terkait hal-hal apa saja yang ada di daftar “no buy” atau “tidak boleh dibeli” misalnya tidak akan nongkrong di kafe kecuali ada proyek atau meeting penting.

Tidak ada aturan khusus untuk tren ini, semua tergantung pada kebutuhan dan prioritas masing-masing individu.
Tren ini mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi barang-barang yang diklaim tak esensial selama tahun 2025.

Tujuannya untuk mendorong pola hidup lebih ekonomis, sadar lingkungan, serta berfokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan.

Tidak hanya soal menekankan pada konsumsi, namun juga bagian dari upaya
meningkatkan kesadaran terhadap dampak budaya konsumerisme terhadap lingkungan serta kesehatan psikologis.

Tren ini adalah bentuk protes simbolis yang mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi barang dan jasa tertentu sebagai tekanan terhadap pemerintah agar mengevaluasi
kebijakan tersebut. masyarakat menilai kenaikan PPN ini akan semakin memberatkan kehidupan sehari-hari, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang masih dirasakan.

Mengapa Viral?
Salah satu penyebab utama viralnya “No Buy 2025” bermula dari berbagai figur publik, termasuk influencer, aktivis lingkungan, dan bahkan selebritas.

Banyak yang membagikan pengalaman pribadi mereka, seperti tantangan hidup tanpa belanja barang baru selama sebulan, dan memberikan tips bagaimana bertahan dengan gaya hidup minimalis.

Banyak juga pengguna yang mengunggah konten kreatif, seperti meme, video parodi, serta infografis yang menggambarkan dampak kenaikan PPN 12%. Contoh dari tren “No Buy2025” dapat dilihat dari salah satu postingan influencer instagram dengan username @casriani menyebutkan:
• Tidak membeli make up sebelum habis.
• Hanya berlangganan aplikasi premium (Netflix) dalam satu waktu yang sama.
• Tidak membeli barang sekali pakai
 
Akankah “No Buy 2025” Berhasil?
Meski baru akan dimulai pada 2025, antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak sekarang. Namun, apakah tren ini bisa bertahan sepanjang tahun dan memberikan dampak nyata? biarkan waktu yang akan menjawab.

Tren ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana media sosial bisa menjadi wadah aktualisasi diri dari ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah, dengan waktu yang masih tersisa sebelum 2025 dimulai, banyak pihak yang menunggu apakah pemerintah akan memberikan respons yang lebih nyata atau justru membiarkan tren ini terus berkembang.

Author – (Almara/Ext) Editor – (Waty/Ext)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *