
Lebak – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 79 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui program Pendampingan Pembuatan Label dan Kemasan Produk UMKM Emping dan Rengginang NJ yang dilaksanakan Bidang 2 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, UMKM, Koperasi, dan Ekonomi Kreatif pada Sabtu (1/8/2026), di RT 04/RW 02, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.
Program ini merupakan bentuk pendampingan kepada pelaku UMKM lokal agar produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas dari sisi rasa, tetapi juga memiliki identitas yang mampu meningkatkan daya tarik dan nilai jual di tengah persaingan pasar. Selama kurang lebih satu minggu, tim KKM merancang desain label yang kemudian diaplikasikan pada kemasan plastik ziplock sebagai wajah baru produk Emping dan Rengginang NJ.
UMKM milik Aen tersebut telah beroperasi sekitar dua setengah tahun. Selama menjalankan usahanya, ia mengaku menghadapi kendala pada aspek pemasaran dan pengemasan. Produk yang dihasilkan belum memiliki identitas merek sehingga sulit dikenal masyarakat secara lebih luas. Selain itu, kemasan yang digunakan sebelumnya dinilai kurang optimal dalam menjaga kualitas produk, sehingga berpotensi membuat produk mudah lembap dan berjamur.
Ketua KKM Kelompok 79 UNIBA, Arizal Almunawar, mengatakan penguatan identitas produk menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan UMKM desa.
“UMKM tidak hanya membutuhkan produk yang berkualitas, tetapi juga identitas yang mampu membangun kepercayaan konsumen. Melalui pendampingan ini, kami ingin menghadirkan nilai tambah bagi produk lokal sehingga lebih mudah dikenali, memiliki daya saing, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kami berharap langkah sederhana ini dapat menjadi awal bagi berkembangnya UMKM Desa Sukadaya,” ujarnya.
Koordinator Bidang 2, Destri Dwi Cahyani, menjelaskan proses pembuatan label dilakukan berdasarkan kebutuhan pelaku usaha dengan tetap menyesuaikan karakter produk yang dipasarkan.
“Kami berupaya menghadirkan desain yang sederhana, informatif, dan mudah diingat. Label bukan sekadar pelengkap kemasan, melainkan identitas yang membedakan produk dengan produk lainnya. Harapannya, pelabelan ini dapat menjadi nilai tambah sekaligus memperkuat citra produk UMKM desa,” katanya.
Sebagai bagian dari program, tim KKM menyerahkan label dan kemasan secara simbolis kepada pemilik usaha. Setelah penyerahan, produk langsung dikemas menggunakan desain baru sebagai bentuk implementasi hasil pendampingan.
Pemilik UMKM, Aen, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKM yang telah membantu memperkuat identitas produknya.
“Alhamdulillah, sekarang produk kami memiliki merek dan tampil lebih menarik. Saya mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKM UNIBA yang telah mendampingi kami. Semoga dengan kemasan dan label baru ini produk kami semakin dikenal masyarakat, penjualannya meningkat, dan usaha kecil kami bisa terus berkembang,” ujar Aen.
Melalui program ini, KKM Kelompok 79 UNIBA menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui program berskala besar. Inovasi sederhana seperti pelabelan dan pembaruan kemasan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat daya saing UMKM lokal, memperluas akses pemasaran, serta mendorong tumbuhnya ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Author : Arizal
Editor : Khaishya/Extama

