Aksi Mahasiswa Uniba Soroti Tata Kelola Dana UKM dan Kejelasan Birokrasi Kampus

Extama – Para mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Bina Bangsa (Uniba) menggelar aksi penyampaian pendapat di lingkungan Kampus A, pada Jumat (23/1/2026).

Aksi ini menjadi puncak dari serangkaian diskusi internal antar-organisasi mahasiswa (Ormawa) terkait mekanisme pencairan dana kegiatan, transparansi anggaran kemahasiswaan, serta kejelasan prosedur birokrasi di lingkungan kampus yang digelar pada hari sebelumnya, Kamis (22/1/2026).

Aksi yang dimulai dengan long march area kampus menuju gedung utama ini menyoroti isu utama mengenai keberlanjutan organisasi mahasiswa di tengah pengetatan aturan administrasi.

Berdasarkan hasil konsolidasi yang digelar sehari sebelumnya (22/1/2026), perwakilan mahasiswa dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) mengeluhkan birokrasi pengajuan proposal kegiatan yang dinilai rumit dan berbelit-belit.

Dalam forum tersebut, sejumlah perwakilan Ormawa seperti KSR, HIMAKOM, dan LISBU mengungkapkan kendala administratif di mana pengajuan proposal kerap mengalami revisi berulang atau penolakan tanpa alasan yang spesifik.

Mahasiswa menilai, meskipun mereka telah menunaikan kewajiban pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang di dalamnya mencakup komponen biaya kemahasiswaan hak untuk mendapatkan dukungan fasilitas dan dana kegiatan dirasa belum optimal.

Koordinator lapangan aksi, Reza Triyana, dalam seruannya menyebutkan bahwa mahasiswa membutuhkan kejelasan Standard Operating Procedure (SOP) keuangan.

“Kami menyuarakan agar prosedur keuangan Ormawa dibuat jelas dan transparan. Mahasiswa tidak ingin birokrasi yang menghambat kreativitas dan prestasi yang, pada akhirnya, juga ditujukan untuk menunjang akreditasi kampus,” ungkap perwakilan massa aksi.

Isu sentral yang diangkat dalam aksi ini adalah kekhawatiran bahwa Ormawa hanya diposisikan sebagai pemenuhan syarat akreditasi, namun minim dukungan dalam operasional hariannya.

Di sisi lain, kebijakan ketat yang dirasakan mahasiswa ini sejalan dengan arahan yang disampaikan oleh Pembina Yayasan Uniba, Prof. Dr. H. Furtasan Ali Yusuf, S.E., S.Kom., M.M., dalam pertemuan internal sebelumnya. Pihak yayasan menekankan pentingnya pergeseran prioritas mahasiswa kembali ke tujuan utama, yakni akademik.

Dalam transkrip arahan pembina yayasan, disebutkan bahwa fokus utama mahasiswa haruslah “belajar, belajar, dan belajar”. Berkaitan dengan dana kemahasiswaan, pihak yayasan menegaskan perlunya efektivitas kegiatan.

“Dibatasi satu semester itu dua kali pengajuan anggaran. Yang menjadi pertanyaannya bukan berapa kalinya, tapi bagaimana memanfaatkan kegiatan yang paling bermanfaat,” demikian kutipan poin arahan dari pihak Yayasan.

Selain pembatasan frekuensi pengajuan, pihak kampus juga tengah melakukan standarisasi biaya, termasuk standar konsumsi yang diatur oleh bagian keuangan. Pihak kampus juga menekankan kedisiplinan administrasi, di mana Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) menjadi syarat mutlak.

Organisasi yang tidak menyelesaikan LPJ dari dana yang telah dicairkan akan dikenakan sanksi berupa larangan mengajukan kegiatan kembali.

Pertemuan antara aspirasi mahasiswa dan kebijakan baru kampus ini mengerucut pada empat tuntutan utama yang disampaikan dalam aksi Jumat kemarin:


1. Transparansi Anggaran: Mahasiswa meminta penjelasan terbuka mengenai alokasi dana kemahasiswaan/UKM.
2. Kejelasan Prosedur: Penerbitan prosedur keuangan Ormawa yang baku agar tidak terjadi kebingungan administrasi.
3. Fasilitas Penunjang: Pemenuhan kebutuhan fasilitas dasar bagi sekretariat dan kegiatan mahasiswa.
4. Apresiasi Prestasi: Pemberian keringanan UKT bagi mahasiswa yang berprestasi mengharumkan nama kampus.

Pihak mahasiswa berharap adanya titik temu dan “Fakta Integritas” tertulis sebagai jaminan perbaikan sistem. Sementara itu, pihak kampus dalam arahannya juga telah meminta HIMA dan UKM untuk terus membuat konten positif yang dapat membesarkan nama institusi, serta mempersiapkan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) semester depan dengan lebih matang pasca-UAS Januari ini.

Diharapkan, dialog antara mahasiswa dan rektorat dapat segera terjalin untuk menyelaraskan visi kampus yang berfokus pada kualitas akademik tanpa mematikan kreativitas kegiatan kemahasiswaan.

Author : Khaishya/Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *