Headlines

Di Balik Kata Sandwich

Sebuah malam yang sunyi, menyelimuti semesta dengan kelam yang lembut. Langit bagai kanvas hitam, ditaburi noktah-noktah bintang yang berkilau, seolah para dewa tengah menabur serpihan cahaya abadi. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang bercampur  harum bunga melati dari taman tetangga.

Malam itu, Gina yang sedang duduk di sudut jendela kamar yang kecil, ditemani cahaya redup dari lampu meja. Gina termenung mengingat usianya yang masih 19 tahun dan baru menyelesaikan pendidikan SMA membayangkan akan menjadi seseorang yang sukses dan bisa menyokong keluarganya.

Namun, kehidupan seringkali berjalan tidak sesuai dengan harapan.
Di usia yang baru 19 tahun itu ia harus memikul tanggung jawab. Ayahnya wafat setahun yang lalu, sementara ibunya bekerja serabutan sebagai penjual kue keliling kampung.

Di sisi lain, adiknya, Zaki Pratama, baru memasuki SMP dan membutuhkan banyak biaya untuk sekolah. Akhirnya biaya sekolah, uang makan, dan kebutuhan sehari hari mereka bertumpu pada Gina yang bekerja sebagai admin di sebuah toko online.

Hari-hari Gina selalu di mulai dari pukul lima pagi. Ia beranjak dari tidurnya, untuk sembahyang subuh dan memasak sarapan untuk keluarga, waktu sudah pukul tujuh Gina bersiap untuk pergi ke toko. Gina bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 bahkan sering sampai larut malam jika sedang banyak pesanan.

Ia bekerja berjam-jam dengan senyuman yang dipaksakan, suara yang terkadang serak karena mempromosikan barang, meski tubuh terasa lelah, dan hati yang sering kali berat memikirkan kebutuhan keluarga. Gaji yang ia terima pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit menyisihkan untuk tabungan darurat, mau bagaimana lagi ini pekerjaan Gina untuk menghidupi kebutuhannya.

Gina sebenarnya punya cita-cita menjadi seorang perawat. Ia ingin kuliah seperti teman-teman seusianya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tapi di sisi lain ia pun tau bahwa itu tidak mungkin,mengingat biaya kuliah yang terlalu besar dan ia juga tak bisa membagi waktu antara bekerja dan belajar jika ia nekat kuliah sambil kerja,Gina khawatir pekerjaanya membuat ia tidak fokus.

“Kalau aku kuliah siapa yang mau menghidupi mereka? Siapa yang jagain ibu dan adikku?” pikirnya saat malam di sudut jendela kamarnya.

Keresahan itu membuat Gina takut dan memilih untuk tidak lanjut kuliah. Terkadang Gina merasa iri melihat teman-teman yang bisa bersantai di cafe dan main menikmati waktu muda mereka, dan berbagi cerita tentang kehidupan kampusnya pada saat Gina reuni bersama teman SMA-nya di hari libur, sedangkan ia memendam perasaan itu diam-diam sambil berkata dalam hati.

“Seandainya aku seperti mereka” ucapnya dalam hati.

Hari minggu hari libur kerja. Gina dan adiknya tengah menikmati tayangan acara televisi di ruang tengah, sedangkan ibunya, sedang menyiapkan daun pisang untuk membuat kue jualan di sudut ruangan dengan wajah sendu.  Pandangannya sesekali mencuri kearah Gina yang sedang bersama adiknya. Ia tahu betapa besar keinginan Gina untuk kuliah.

Gina juga anak yang pintar dan menjadi lulusan terbaik di sekolah. Namun kenyataan hidup tak memberinya banyak pilihan.

“Ibu, Gina bantu gunting daunnya, ya,” ujar Gina sambil mendekat.

“Sudah, Nak. Kamu istirahat saja kan setiap hari kamu kerja kurang istirahat,” jawab Bu Dian dengan lembut.

Gina duduk di lantai, meraih selembar daun pisang dari tumpukannya. Ia memaksa tersenyum meski hatinya penuh gejolak.

“Bu, Gina nggak apa-apa ko kalo gina nggak kuliah tahun ini, nggak masalah. Mungkin nanti gina dapet kesempatan di lain waktu buat Gina bisa kuliah.” Bu Dian terdiam ia tau jika putrinya mencoba buat tegar, tapi ia juga tau sebenarnya hatinya kecewa.

Beberapa minggu kemudian seperti biasa hari-hari Gina bekerja, di sela istirahat siang di toko, Gina duduk di bangku kecil sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan agar tahun depan Gina bisa kuliah dengan sedikit hasil tabungan selama satu tahun bekerja ini.

“Gina, kok melamun?” Tanya Nisa teman kerjanya.

Gina tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Cuma kepikiran sesuatu.”

Nisa menatap ragu. “Kamu kalau ada masalah, cerita aja. Siapa tahu aku bisa bantu.”

Awalnya Gina ragu, tetapi akhirnya ia menceritakan masalahnya. Nisa mendengarkan dengan seksama, lalu berkata.

“Aku tahu tempat kerja lain yang mungkin bisa bantu kamu dapat uang lebih, supaya kamu bisa cukup buat sehari hari adik dan ibu kamu, kamu juga bisa nabung buat kamu bisa kuliah. Ada restoran yang lagi cari pelayan paruh waktu, gajinya lumayan, tapi jam kerjanya berat.”

Gina berpikir keras, tawaran itu sungguh menggoda, tetapi ia khawatir tak bisa membagi waktu antara pekerjaanya saat ini dan pekerjaan tambahan itu.

Sementara itu, Zaki Adiknya, sering meminta hal-hal kecil yang sebenarnyaa sulit Gina penuhi.

“Kak, aku butuh sepatu baru. Sepatu yang lama sudah bolong” katanya suatu pagi. Gina mengangguk, meski ia tahu gajinya bulan ini hampir habis karena kebutuhan sehari harinya.

Zaki mungkin tidak sepenuhnya paham betapa berat beban yang dipikul kakanya, bagi gina, hal itu wajar. Adiknya masih terlalu muda untuk mengerti.

Setelah mempertimbangkan selama dua hari apa yang di bilang oleh Nisa, Gina akhirnya memutuskan untuk mencoba bekerja di restoran. Ia  melamar dan di terima sebagai pelayan malam. Kini,  rutinitasnya bertambah berat.

Pagi hingga sore ia bekerja di toko online, lalu malamnya menghabiskan waktu di restoran hingga larut. Awalnya semuanya berjalan dengan lancar, tapi setelah satu bulan Gina terus terusan bekerja dari pagi sampai malam akhirnya Gina jatuh sakit dan memutuskan untuk berhenti dari kerja tamabahan di restoran itu dan menetap bekerja di toko online.

Setelah Gina bekerja di toko online selama hampir dua tahun, suatu hari, Gina mendengar kabar bahwa tempat ia bekerja membuka program beasiswa untuk karyawannya yang ingin kuliah. Penuh semangat yang baru, ia mengajukan lamaran, meski harus mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengikuti tes persyaratan program beasiswa itu.

“Kalau aku berhasil, aku bisa mendapatkan gelar dan pekerjaan yang lebih baik” pikirnya sambil tersenyum gembira.

Setelah menjalankan proses yang begitu panjang, dua bulan kemudian kabar baik datang pada Gina, Gina diterima program beasiswa tersebut. Ia akan kuliah dengan program studi yang ia impikan selama dia dibangku SMA, tapi ia tetap melanjutkan bekerja di toko online, setelah selesai perkuliahan dia melanjutkan kerja dan malamnya mengerjakan tugas kuliah. Ketika ia memberi tahu ibunya, ibu menangis haru.

“Ini langkah besar Gina. Kamu hebat sekali” kata ibu dengan mata berbinar.

“Alhamdulillah, terima kasih tuhan” bisiknya dari hati sambil tersenyum.
Setelah memasuki ke bangku kuliah keseharian Gina hanya kuliah, kerja dan membahagiakan ibu dan adiknya.

Walaupun hidup Gina masi jauh dari kata mudah, tapi Gina bersyukur ia memiliki secercah harapan. Meski menjadi GENERASI SANDWICH di usia yang masi terbilang muda, ia belajar bahwa pengorbanan tidak selalu berarti mengorbankan segalanya. Gina berhak bermimpi, sekaligus tetap berjuang untuk keluarganya.

Di malam yang sunyi di sisi jendela ditemani lampu redup di atas mejanya itu,Gina memandang ke luar membayangkan masa depan yang cerah. Ia tahu perjuangannya  belum selesai sampai di sini, tapi ini adalah awal dari segalanya ia harus berjalan dengan langkap yang lebih tegap dan semangat demi masa depan, ibu dan adik tersayang.

Selesai…..

Oleh: Wulan Oktavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *