Doomspending: Fenomena Belanja Impulsif Mahasiswa sebagai Pelarian Stres

Extama – Di era digital ini, di mana notifikasi promo dari marketplace muncul setiap menit, mahasiswa sering kali terjebak dalam lingkaran belanja yang tak terkendali.

Fenomena ini dikenal sebagai doomspending, yakni kebiasaan belanja secara impulsif di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan tekanan hidup, semakin marak di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa.Menurut pendapat saya, fenomena ini bukan dari sekadar tren dalam pola konsumsi individu, hal ini sering kali dijadikan pelarian dari stres akademik. Namun, timbul pertanyaan tentang efektivitas kebiasaan tersebut, apakah ini solusi atau atau justru menjadi bom waktu yang dapat mengakibatkan masalah finansial di masa depan?

Apa Itu Doomspending dan Mengapa Mahasiswa Rentan?

Doomspending pertama kali populer selama pandemi COVID-19, ketika orang-orang membeli barang yang tidak diperlukan untuk meredakan kecemasan akan masa depan suram (doom). Di Indonesia, survei dari Jakpat (2023) menunjukkan bahwa 62% Gen Z, mengaku belanja online lebih sering saat stres.

Mahasiswa, yang sering berada di persimpangan tekanan akademik dan sosial, menjadi kelompok yang rentan terhadap perilaku ini karena mereka mencari cara cepat untuk mengalihkan perhatian dari stres belajar dan berbagai tanggung jawab.

Bayangkan, tugas kuliah menumpuk, dan deadline skripsi mengintai. Dengan dimudahkannya akses belanja melalui marketplace, mahasiswa menganggap belanja sebagai “terapi instan”. Menurut pendapat saya, hal ini bisa dianggap wajar sebagai mekanisme koping yang terjadi secara alami. Psikologi evolusioner mengatakan, manusia cenderung mencari dopamin cepat saat tertekan, serupa dengan mengonsumsi makanan cepat saji (junk food) untuk kewarasan jiwa. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Psychology (2022) menemukan, bahwa belanja impulsif meningkat 40% saat level stres naik, karena otak mengasosiasikan tindakan “beli sekarang” dengan rasa aman sementara. Untuk mahasiswa yang hidup dari uang saku pas-pasan, promo promo yang ditawarkan adalah penyelamat emosi.

Bagi mahasiswa yang hidup dengan uang saku yang terbatas, berbagai promosi yang ditawarkan sering kali menjadi penyelamat emosional bagi mereka.

Doomspending juga punya sisi baik jika terkendali. Ia memberi ilusi kontrol di tengah kekacauan. Misalnya, membeli buku planner atau barang-barang lucu bisa memotivasi produktivitas. Data dari McKinsey (2024) menyebut “retail therapy” meningkatkan suasana hati seseorang hingga 20% dalam 24 jam. Bagi mahasiswa, ini seperti jeda dari kelelahan mental, karna lebih ekonomis daripada nongkrong di kafe atau terapi profesional yang umumnya tidak terjangkau.

Tidak adil jika hanya membahas sisi baiknya. Doomspending bisa menjadi pedang bermata dua yang lebih sering menusuk diri sendiri. Mahasiswa sering lupa bahwa, cicilan 0% akan berujung bunga tersembunyi. Laporan OJK (2023) mencatat peningkatan pinjaman online ilegal di kalangan usia 18-24 tahun sebesar 35%, hal ini banyak dipicu oleh belanja secara impulsif.

Bayangkan, ketika seseorang lulus dari perguruan tinggi, dan ia menghadapi kenyataan bahwa dirinya dibebani utang sebesar Rp 5-10 juta dari belanja “stres relief” bukannya membangun fondasi karir, hal ini malah menambah beban mental baru. Fenomena ini diperburuk dengan algoritma pada platform belanja yang memanfaatkan fear of missing out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan. Setiap kali kita menggulirkan feed media sosial, melihat teman unboxing paket, lalu tanpa sadar, kita ikut terbawa arus dan memutuskan untuk membeli barang-barang secara impulsif.

Hasilnya? tabungan habis, nilai IPK turun karena distraksi, dan siklus stres berulang. Ini bukanlah suatu pelarian, tetapi penundaan masalah. Mahasiswa butuh literasi finansial, bukan promo flash sale.

Terakhir, doomspending bisa diatasi dengan kesadaran diri. Menerapkan aturan 24 jam, yaitu keputusan untuk menunda belanja impulsif semalam. Gunakan aplikasi seperti Money Manager untuk dapat membantu dalam melacak pengeluaran. Kampus sebaiknya masukkan edukasi finansial ke kurikulum, bukan cuma teori ekonomi, tapi workshop “stres vs dompet”.

Pada akhirnya, doomspending mencerminkan kegagalan sistemik kita dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa. Belanja boleh menjadi pelarian, tapi jangan sampai jadi penjara. Mari ubah impulsif menjadi investasi, untuk masa depan yang tak lagi suram (doom).

Author : Putri / Ext

Editor : Sella / Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *