HIMA BK UNIBA Gelar Seminar Nasional dan Penandatanganan IA, Dorong Transformasi Konselor di Era Disrupsi

Extama – Himpunan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling (HIMA-BK) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “Mentari BK: Menyinari dengan Ilmu, Menghangatkan dengan Seni” pada Sabtu, 7 Februari 2026. Bertempat di Aula Gedung D Lantai 6, kegiatan ini menghadirkan diskursus mendalam mengenai transformasi dunia konseling di era disrupsi. 

Acara dibuka dengan laporan Ketua Pelaksana, Putri Audina Risyancik. Dalam sambutannya, Putri menegaskan bahwa seminar ini bukan sekadar seremonial, melainkan wadah krusial bagi pengembangan intelektual mahasiswa. 

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan akademik, kemampuan komunikasi, serta mendorong peserta untuk berpikir kritis,” ujar Putri di hadapan para peserta.

Ia juga menambahkan, “Terima kasih kepada pihak kampus yang telah merespons dengan baik dan memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara ini.”

Dukungan fakultas turut disuarakan oleh Wakil Dekan 1 FKIP, Beni Junedi, M.Pd, S.Pd.I., yang menyebut Bimbingan Konseling sebagai salah satu prodi unggulan di FKIP. Beni menekankan esensi dari layanan BK itu sendiri.

“Konseling adalah proses interaktif antara konselor dan klien. Ini adalah kegiatan yang memberikan dukungan emosional dan psikologis, terutama dalam menghadapi masalah sosial,” tutur Beni.

Ia berharap tema acara ini benar-benar terinternalisasi, “Tema ini harus mensupport dan menguatkan. Saya harap peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sebaik-baiknya dan fokus.”

Suasana seminar semakin berbobot saat Rektor UNIBA, Prof. Dr. H. Bambang Dwi Suseno, S.E., M.M., memberikan pandangannya mengenai lanskap kesehatan mental global yang tengah berubah drastis akibat teknologi.

“Dunia konseling dan kesehatan mental global sedang berubah dengan kecepatan eksponensial,” tegas Prof. Bambang.

Ia mengingatkan seluruh civitas akademika untuk sigap menghadapi perubahan zaman, terutama terkait disrupsi teknologi AI dan realitas virtual.

“Jika kita lengah, kita akan tertinggal. Namun, jika kita adaptif, kita akan menjadi pionir,” ucapnya yang disambut antusiasme peserta.

Menurutnya, ada empat tren disruptif yang akan membentuk masa depan profesi konseling, mulai dari pergeseran paradigma penyembuhan hingga riset dan inovasi yang lebih kontekstual.

Puncak acara diisi dengan penandatanganan kerja sama (Implementation Arrangement) antara Prodi BK UNIBA dan Prodi BK UNTIRTA, dilanjutkan pemaparan materi oleh Arga Satrio Prabowo, M.Pd. selaku narasumber.

Arga menyoroti pergeseran peran BK dari yang tadinya hanya dianggap “polisi sekolah” menjadi mitra strategis. 

“BK di Indonesia sedang berubah dari paradigma lama sebagai penyembuh masalah atau kuratif, menjadi peran yang lebih proaktif, yaitu developmental atau pemberdayaan potensi,” jelas Arga.

Ia menekankan bahwa konselor abad 21 memiliki posisi tawar yang baru di sekolah. “Konselor kini diposisikan sebagai mitra sejajar bagi guru dan kepala sekolah, bukan sekadar pelengkap,” tambahnya.

Lebih lanjut, Arga memaparkan pentingnya advokasi sistemik. “BK tidak hanya melihat masalah pada individu siswa, tetapi juga melihat hambatan struktural. Kita harus mendorong akses pendidikan yang setara dan melakukan kolaborasi untuk menciptakan perubahan lingkungan sekolah,” pungkasnya.

Acara ditutup dengan pengumuman pemenang lomba yang telah berlangsung sejak Januari. Kompetisi ini mencakup lomba poster untuk tingkat siswa, serta esai dan layanan BK untuk mahasiswa se-Provinsi Banten.

Pengumuman ini menjadi penutup manis bagi rangkaian kegiatan yang dipandu oleh MC Lika Fajriani tersebut.

Author : Khaishya/Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *