Extama – Di sebuah kota yang di keliling oleh gemerlap cahaya lampu, hiduplah seorang lelaki muda bertumbuh jangkung yang tampan dan rupawan, ia bernama keilano.
Ia memiliki mata yang teduh dan senyuman yang mampu memanah siapapun yang melihatnya, namun dibalik senyuman yang indah dan mata yang teduh itu ia menyimpan segala ketakutan, kekecewaan dan juga luka-luka kecil yang tak pernah ia utarakan kepada orang lain.
Setiap malam, ketika berada sendirian di dalam kamar yang selalu menjadi saksi isak tangisnya dan cermin yang selalu melihat senyum di wajah nya yang ia buat untuk selalu tegar dalam semua masalah hidup yang datang.
Ia membuka jendela kamar, melihat kearah bintang yang menerangi langit, membiarkan hati dan pikirannya berkecamuk menjadi satu dibawa oleh angin yang berhembus.
Dalam kesendirian yang menyelimuti, keilano berfikir dan meratapi perjalanan kehidupannya yang sekilas teringat oleh mimpi mimpi yang pernah ia ucapkan semasa kecil, ia berusaha keras untuk menggapai mimpi itu dan menjadikan pelajaran untuk setiap kegagalan yang pernah ia alami.
Untuk pertama kalinya didalam hidup keilano, ia meraih bahunya sendiri untuk mencoba memeluk dirinya ditengah kegagalan yang di alami, karena pada dasarnya kekuatan sejati yang membuat kita bangga pada diri sendiri adalah bukan hanya tentang bagaimana berhasil atau gagal.
Melainkan tentang bagaimana proses yang kita alami untuk sebuah pencapaian yang ingin kita gapai dan tentang bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri di saat-saat sulit itu.
Ia membiarkan tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri dan menguatkan dunia yang berada di dalam dirinya yang hampir runtuh.
Di dalam kesunyiannya, keilano mendapatkan kekuatan untuk bangkit kembali, ia telah menghadapi massa lalu dengan bijaksana dan berusaha memandang massa depan yang cerah penuh dengan harapan.
Pelukan yang ia berikan terhadap dirinya sendiri menjadi tanda apresiasi bahwa dia mampu untuk melewati segala rintangan yang menghalangi perjalanan hidupnya, sebab di dalam dirinya terdapat kekuatan yang tak terduga yang mampu membuatnya kembali bersemangat untuk melanjutkan hidupnya.
Dengan langkah kaki yang mantap, badan yang berdiri tegap, ia menghampiri cermin di kamarnya dan bersenyum untuk menjalani hari esok dengan semangat baru.
Suatu kesunyian atau kesendirian bukan lagi masalah atau beban yang harus ditakuti dan di bawah langit malam yang dihiasi gemerlap bintang dengan sentuhan angin yang berhembus sejuk.
Ia akan siap menghadapi apapun yang akan datang selagi ia mempunyai jati dirinya sendiri.
“Kadang seseorang yang terbiasa untuk sendiri juga membutuhkan seseorang yang selalu ada di sampingnya untuk menjadi bahu sandaran dan juga menjadi wadah untuk bercerita” — Keilano.
Author – (Yanggi/Ext) Author – (Ajeng/Ext)

