
Extama – Setiap Kamis sore, di seberang Istana Merdeka, Jakarta, puluhan orang berdiri dengan payung hitam di tangan dan pakaian hitam yang mereka kenakan. Mereka adalah para korban dan keluarga korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di masa lalu, yang secara rutin melakukan aksi yang mereka namai Kamisan.
Di antara mereka, ada Ibu Sumarsih, ibunda dari Bernadus Realino Norma Irmawan atau Wawan, salah satu korban tragedi Semanggi I tahun 1998. Wawan, bersama mahasiswa lainnya, menjadi korban kekerasan aparat keamanan saat demonstran menyuarakan aspirasi mereka.
“Saya percaya, Tuhan lebih mencintai Wawan. Tuhan membawa pulang Wawan ke surga dengan kemuliaan-Nya,” tulis Ibu Sumarsih dalam salah satu twitnya Sumarsih11.
“Tapi, cara meninggalnya Wawan dan kawan-kawannya yang saya permasalahkan agar kamu dan yang lainnya tidak menjadi korban pelanggaran HAM berat di masa yang akan datang.”
Twit pilu dari seorang ibu yang kehilangan anaknya menjadi pengingat bahwa Kamisan bukan hanya sekadar aksi rutin. Di balik payung hitam itu, ada luka yang belum sembuh, ada keadilan yang masih dicari.
Kamisan adalah simbol perlawanan terhadap lupa dan ketidakadilan. Di bawah payung hitam, suara-suara kecil bersatu menjadi kekuatan besar, menuntut perubahan dan keadilan.
Author – (Dina/Ext) Editor – (Waty/Ext)

