
Empati sering kali terperangkap dalam diktum klasik “Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Kalimat ini sekilas terdengar bijak dan kerap menjadi kompas moral dalam berinteraksi.
Ada asumsi kolektif bahwa selama niat kita baik dan sesuai dengan standar personal, maka perlakuan tersebut niscaya akan diterima dengan baik pula oleh orang lain. Namun, pemahaman seperti ini justru menyimpan celah egoisme yang halus.
Persoalan muncul karena manusia bukanlah entitas yang seragam. Setiap individu adalah produk dari akumulasi latar belakang, trauma, budaya, dan preferensi yang berbeda.
Apa yang kita anggap sebagai bentuk perhatian, bisa jadi bagi orang lain adalah sebuah gangguan. Apa yang kita anggap sebagai kejujuran yang tegas, mungkin dirasakan sebagai luka bagi mereka yang memiliki sensitivitas berbeda. Ketika perbedaan spektrum ini diabaikan, empati tidak lagi menjadi jembatan, melainkan sumber ketidaknyamanan.
Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Cania Citta dalam diskursus mengenai prinsip dasar empati, ia menekankan bahwa empati sejati bukanlah memperlakukan orang lain berdasarkan standar kesukaan kita, melainkan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan dan dirasakan oleh objek empati tersebut.
Tanpa upaya untuk “mendengar” lebih dulu, tindakan yang berangkat dari niat baik berisiko menjadi salah sasaran.
Ambil contoh dalam gaya komunikasi. Seseorang yang terbiasa dengan pola komunikasi lugas mungkin menganggap gaya tersebut sebagai efisiensi dan kejujuran.
Namun, bagi lawan bicaranya, cara tersebut bisa saja dianggap intimidatif. Jika individu X memperlakukan Y murni berdasarkan standar kenyamanan X, maka ia tidak sedang berempati; ia sedang memproyeksikan dirinya pada orang lain.
Pada titik ini, menjadi jelas bahwa empati bukan tentang menyamakan orang lain dengan diri kita, melainkan upaya tulus untuk memahami orang lain apa adanya mengenali cara berpikir mereka, mendalami situasi mereka, dan menghargai sudut pandang mereka tanpa penghakiman.
Gagasan ini beresonansi kuat dengan prinsip dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey: “Seek first to understand, then to be understood.” Memahami harus menjadi langkah pendahulu sebelum menuntut untuk dipahami.
Dalam konteks komunikasi, hal ini menuntut kita untuk bergeser dari sudut pandang “aku” menuju sudut pandang “kamu”.
Dengan pendekatan ini, komunikasi bukan lagi sekadar transmisi pesan, melainkan sebuah proses adaptasi.
Seseorang akan mulai mempertimbangkan diksi, nada bicara, dan momentum yang paling tepat agar pesan tersebut dapat diterima dengan utuh.
Keberhasilan komunikasi tidak lagi diukur dari seberapa keras kita bersuara atau seberapa baik niat kita, melainkan dari sejauh mana pesan tersebut mampu menyentuh frekuensi yang sama dengan lawan bicara.
Pada akhirnya, empati adalah keterampilan sosial yang menuntut kesadaran penuh dan latihan terus-menerus. Ia mengajarkan kita sebuah realitas penting: bahwa niat baik hanyalah setengah dari proses; setengah lainnya adalah memastikan dampak dari tindakan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi orang lain.
Dengan empati yang tepat, perbedaan tidak akan lagi memicu konflik, melainkan menjadi ruang luas untuk saling memahami dan bertumbuh bersama dalam harmoni.
Author : Arizal/Ext
Editor : Khaishya/Ext

