Pers Mahasiswa Nulis Fakta, Kok Birokrasi Meriang?

Extama – Pers Mahasiswa (Persma) sering disalahartikan sebagai alat promosi kampus, padahal perannya jauh lebih penting. Pers Mahasiswa bukan hanya kumpulan mahasiswa yang suka menulis atau meliput acara seremonial, tapi juga menjaga demokrasi dilingkup akademik.

Persma seharusnya menjadi ruang independen untuk menyuarakan kepentingan, aspirasi, dan kritik mahasiswa. Namun, masih banyak kampus yang alergi terhadap kritik dengan segala kekuasaan, ancaman akademik membuat persma tak berkutik.

Ironisnya, tidak sedikit birokrasi kampus yang bertindak represif. Mulai dari mengintervensi redaksi, mengancam pencabutan dana operasional, hingga menekan pengurus Persma secara personal.

Padahal, fakta yang disampaikan Persma didukung oleh data dan berdasarkan kenyataan lapangan. Jika demikian, mengapa birokrasi harus takut? Apa yang sebenarnya mereka tutupi?

Ketika mengangkat isu yang sensitif seperti kenaikan biaya kuliah, fasilitas kampus yang rusak atau bahkan penyalahgunaan anggaran, Persma justru sering terserang. Mereka dicap sebagai pemberontak dan dianggap mencemarkan nama baik.

Persma bersifat independen, bukan bawahan rektorat. Jika mereka hanya menulis hal-hal menyenangkan, siapa yang akan menyuarakan keresahan mahasiswa? Siapa yang akan menjadi pengawas kebijakan kampus yang kerap tidak transparan?

Mahasiswa, sebagai agen perubahan, juga bertanggung jawab mendukung Persma. Jangan hanya diam ketika media kampus dibungkam. Pers mahasiswa bukan humas kampus dan mereka juga bukan musuh birokrasi. Mereka adalah suara mahasiswa dan suara itu harus tetap lantang!

Author : Dina
Editor : Ajeng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *