Ramadan: Doa-Doa yang Tak Pernah Kita Ceritakan


Extama – Tahun ini, kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan 1447 H. Sebuah pertemuan yang layak disyukuri, mengingat tidak semua individu diberikan peluang yang serupa. Ramadan senantiasa hadir dengan ketenangan yang istimewa. Seperti terdapat kebahagiaan sederhana yang sukar diungkapkan. Sebuah perasaan kembali kepada sesuatu yang selama ini kita rindukan.

Pada bulan ini, doa seolah-olah membanjiri setiap sudut ruangan. Ada yang dilafalkan dengan suara lantang, ada pula yang hanya hadir dalam wujud air mata. Sebagian tampak sederhana: mengharapkan kesehatan, rezeki, dan masa depan yang lebih cerah. Namun, di antara segala hal tersebut, tersembunyi doa-doa yang tak pernah diungkapkan kepada siapa pun. Doa tentang luka yang belum sembuh, ketakutan yang belum berani dihadapi, serta kegelisahan yang hanya berani dipasrahkan kepada sang pencipta.

Dalam kehidupan yang menuntut kita untuk selalu tampak kuat. Manusia memang pandai menyembunyikan perasaannya. Seperti senyum yang terpatri, meskipun hati sedang rapuh. Namun demikian, Ramadan secara perlahan mengikis topeng tersebut.

Dengan menyuguhkan malam-malam hening tanpa saksi, di mana seseorang berani bersikap jujur kepada dirinya sendiri. Dalam keheningan itulah, doa-doa yang telah lama terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ramadan mengajarkan bahwa kedekatan tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk kembali.

Kembali meski telah terjatuh berulang kali. Kembali meski kerap lalai. Kembali meski merasa tidak layak. Kejujuran semacam ini jarang kita temui di luar bulan ini. Kita terlalu sibuk berlari, mengejar standar, dan membandingkan kehidupan. Kita lupa bahwa Tuhan tidak menilai seberapa cepat kita tiba, melainkan seberapa tulus kita melangkah pulang.

Sering kali kita merasa harus menjadi versi terbaik terlebih dahulu sebelum mendekat. Padahal, justru di saat kita paling lemah, kita sangat membutuhkan-Nya. Ramadan seolah mematahkan pola pikir tersebut. Ia hadir bukan untuk menunggu kesempurnaan kita, melainkan untuk menemani kita yang masih dipenuhi kekurangan.

Ada pula doa yang bahkan tidak bisa kita pahami. Doa yang hanya berupa rasa. Kegelisahan yang muncul tanpa sebab yang jelas. Keinginan untuk pulang tanpa tanpa mengetahui tujuan. Harapan untuk dimengerti tanpa tahu kepada siapa harus berbagi kisah. Kita hanya menengadah dalam hening, berharap bahwa bahasa hati tersebut tetap tersampaikan.

Mungkin, inilah yang paling menenangkan: doa tidak selalu harus berujung sesuai harapan. Adakalanya, doa hanya perlu didengarkan. Ia menjadi tempat perhentian, tempat kita menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali. Dalam berdoa, kita belajar untuk melepaskan.

Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan latihan kesabaran dalam menghadapi ketidakpastian. Kita belajar bahwa harapan bukan selalu tentang hasil, melainkan tentang keberanian untuk tetap percaya.
Barangkali, hal inilah yang menjadikan Ramadan terasa begitu istimewa. Ia memberi ruang untuk menjadi manusia sepenuhnya. Bukan hanya hamba yang taat, tetapi juga sebagai insan yang lelah, penuh keraguan, dan sedang mencari arah hidup.

Oleh karena itu, ketika Ramadan kembali hadir, mungkin yang paling esensial bukanlah jumlah target yang kita rencanakan, bukan pula hitungan amal yang kita kumpulkan.Yang paling berharga adalah ketulusan serta kejujuran dalam berdoa. Sebab Tuhan tidak hanya mendengar kata-kata. Ia memahami jeda, tangis yang tertahan, keraguan yang tersembunyi, serta harapan kecil yang masih kita genggam erat.

Ada doa tentang cinta yang belum terwujud. Doa untuk memperbaiki hubungan keluarga. Doa tentang masa depan yang ingin diyakini. Doa agar kita tidak menyerah pada diri sendiri. Dan mungkin, di antara semuanya, ada satu doa yang paling sederhana: semoga kita selalu diberi kesempatan untuk kembali.

Pertemuan dengan Ramadan bukanlah suatu kebetulan. Melainkan sebuah undangan untuk berbicara kembali, untuk bersikap jujur kembali, dan untuk menghidupkan harapan kembali. Selama kita masih berdoa, itu menandakan bahwa kita belum kehilangan arah. Selama kita masih berharap, itu menunjukkan bahwa kita masih hidup.

Biarkan Ramadan menjadi tempat kita meletakkan segala yang selama ini kita sembunyikan. Tanpa rasa takut, tanpa khawatir akan dihakimi. Sebab ada Yang Maha Mendengar, bahkan sebelum kita menyampaikan keluh kesah.

Author : Winda/Ext

Editor : Sella/Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *