
Extama – Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah langkah ambisius untuk menyediakan makanan sehat bagi anak-anak di seluruh negeri pada Senin, 6 Januari 2025.
Presiden Prabowo Subianto menyebut program ini sebagai salah satu prioritas utama pemerintahannya dalam mengatasi masalah gizi buruk dan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak.
Dalam pidatonya, Presiden menekankan pentingnya gizi dalam mendukung pertumbuhan generasi muda yang sehat dan cerdas. “Program ini bukan hanya soal makanan, tapi tentang masa depan bangsa,” ujar Presiden Prabowo di Istana Negara.
Program MBG awalnya diperkenalkan sebagai janji kampanye “Makan Siang Gratis” pada Pilpres 2024. Namun, setelah melalui evaluasi, nama program diubah menjadi “Makan Bergizi Gratis” untuk menegaskan fokusnya pada kecukupan gizi.
Program ini dirancang untuk menjangkau 83 juta anak di seluruh Indonesia dengan anggaran yang semula diperkirakan mencapai Rp450 triliun per tahun. Namun, alokasi anggaran dalam APBN 2025 hanya sebesar Rp71 triliun, sehingga pemerintah harus menyesuaikan alokasi per porsi makanan dari Rp15.000 menjadi Rp10.000.
Untuk menutupi kekurangan dana, pemerintah menjalin kerja sama dengan China, yang melibatkan pinjaman senilai US$10 miliar (sekitar Rp157 triliun). Hal ini menuai kritik karena dinilai dapat membebani keuangan negara di masa mendatang.
Peluncuran MBG menangani kritik karena dianggap tergesa-gesa. Diah Saminarsih, pendiri CISDI, menyoroti pentingnya perencanaan yang matang. “Penyediaan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan harus dipastikan berjalan lancar, terutama di daerah terpencil,” ujarnya.
Selain itu, para pengamat menyoroti minimnya mekanisme pengawasan yang berpotensi membuka peluang penyimpangan anggaran. Keterlibatan TNI di bidang logistik juga dibahas karena dianggap tidak memiliki keahlian khusus dalam pengadaan makanan bergizi.
Pemerintah mengakui tantangan ini. “Kami memahami kritik yang disampaikan dan akan terus memperbaiki mekanisme pelaksanaan agar program ini dapat berjalan efektif,” ujar Hasan Nasbi.
Menurut Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, terdapat 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG yang siap beroperasi. Dapur-dapur ini tersebar di 26 provinsi, termasuk Aceh, Bali, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Wilayah timur Indonesia juga mendapat perhatian, seperti Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua Selatan.
Setiap dapur MBG dikelola oleh tim yang terdiri dari kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. Mereka bertugas memastikan kecukupan gizi, kebersihan makanan, serta pengelolaan limbah. Menu makanan yang disajikan umumnya terdiri dari:
1. Nasi putih
2. Protein hewani, seperti telur rebus, ikan goreng, atau ayam suwir
3. Sayuran, seperti bayam atau kangkung rebus
4. Buah segar, seperti pisang atau jeruk
5. Air mineral
Meski sederhana, menu ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar anak-anak. Beberapa wilayah bahkan menambahkan bahan lokal seperti daun kelor sebagai pengganti susu.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan keberhasilan program MBG. Pengawasan ketat dilakukan oleh tim di setiap dapur SPPG, dengan fokus pada kualitas makanan, kebersihan, dan pengelolaan limbah. Namun, tantangan seperti logistik di daerah terpencil dan keterbatasan anggaran tetap menjadi hambatan besar.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan pemerintah untuk meningkatkan efektivitas program ini meliputi:
1. Memperluas kerja sama dengan ahli gizi lokal untuk memastikan makanan memenuhi standar gizi yang beragam.
2. Meningkatkan transparansi anggaran guna mencegah potensi penyimpangan.
3. Menyederhanakan mekanisme distribusi agar makanan dapat sampai tepat waktu, terutama di daerah terpencil.
Meski kegagalan tantangan, Program MBG membawa harapan besar. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan transparansi anggaran, memperkuat kerja sama dengan ahli gizi lokal, dan mengatur proses distribusi di daerah terpencil.
“Program ini adalah investasi untuk masa depan bangsa. Dengan dukungan semua pihak, kami optimis dapat menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.
Peluncuran MBG menjadi langkah penting dalam upaya pemerintah mengatasi masalah gizi anak-anak. Keberhasilannya diharapkan tidak hanya berdampak pada kesehatan generasi muda, tetapi juga menciptakan masa depan Indonesia yang lebih cerah.
Author – (Khaishya/Ext)
Editor – (Ajeng/Ext)

