Ketika Papua Dijadikan Arena Perdebatan, Siapa yang Mendengar Data?


Extama – ‎Isu deforestasi di Papua kembali memanas. Foto dan video pembukaan lahan dalam skala besar memicu perdebatan di media sosial. Sebagian pihak melihatnya sebagai ancaman bagi lingkungan, sementara sebagian lainnya menganggap kritik terhadap proyek tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan. Sayangnya, perdebatan itu lebih sering berhenti pada pertentangan dua pihak tanpa benar-benar menyentuh persoalan yang lebih mendasar.

Papua adalah salah satu wilayah dengan hutan hujan tropis terbesar yang masih tersisa di Indonesia. Hutan tersebut berfungsi sebagai penyimpan karbon, habitat berbagai spesies endemik, sekaligus sumber kehidupan langsung bagi masyarakat adat yang telah mendiaminya selama berabad-abad. Kerusakan yang terjadi hari ini bukan sesuatu yang mudah dipulihkan besok.

‎Namun pembangunan juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Papua masih menghadapi tantangan nyata, mulai dari akses infrastruktur yang terbatas, ketimpangan di bidang pendidikan, dan sempitnya peluang ekonomi. Investasi dan pembangunan bisa membuka jalan menuju peningkatan kesejahteraan.

Persoalannya bukan pada pilihan antara menolak atau mendukung pembangunan secara mutlak, melainkan pada kualitas dan tanggung jawab di balik proses tersebut. ‎‎Pertanyaan yang seharusnya menjadi pusat diskusi justru kerap tenggelam dalam kebisingan.

Apakah pembangunan dilakukan secara bertanggung jawab? Apakah dampak lingkungannya telah dikaji secara memadai? Apakah masyarakat adat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan? Dan yang terpenting, siapa yang benar-benar memperoleh manfaat dari pembangunan tersebut?

‎Pada akhirnya, pembangunan dan pelestarian lingkungan tidak seharusnya dipertentangkan secara mutlak. Keberhasilan pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan menjaga lingkungan dan menjamin kesejahteraan masyarakat.

Ketika Papua dijadikan arena perdebatan, yang dibutuhkan bukan sekadar suara yang paling keras, melainkan kesediaan untuk mendengar data dan berpikir lebih jernih. Papua adalah ruang hidup jutaan orang dan salah satu paru-paru ekologis terpenting yang tersisa.

Author :  Tari / Ext
Editor : Sella / Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *