Mahasiswa KKN 22 Berdayakan Petani Tembakau melalui Pelatihan Pestisida Nabati Berbahan Daun Bayam Liar


Sebagai upaya mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menggelar pelatihan pembuatan pestisida nabati berbahan daun bayam liar bagi sekitar 20 anggota kelompok tani tembakau di Balai Desa Tampojung Guwa, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, Jumat (18/7). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petani mengenai pemanfaatan pestisida nabati sebagai alternatif pengendalian hama ulat grayak (Spodoptera litura) sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pestisida kimia yang berlebihan.

Pelatihan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian. Selain memberikan wawasan mengenai pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan, kegiatan ini juga mendorong petani untuk memanfaatkan sumber daya hayati yang tersedia di sekitar lingkungan sebagai bahan baku pestisida nabati yang lebih ekonomis dan mudah diperoleh.



Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan Ricky Wahyu Arisandi, mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura, sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, Ricky menjelaskan bahwa formulasi pestisida nabati berbahan daun bayam liar telah melalui uji coba di Jawa Tengah dan menunjukkan potensi yang baik dalam membantu mengendalikan serangan hama ulat grayak pada tanaman. Menurutnya, inovasi ini dapat menjadi salah satu alternatif yang layak diterapkan petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis tanpa mengabaikan efektivitas pengendalian hama.

Ricky juga menjelaskan bahwa daun bayam liar yang direndam atau didiamkan selama kurang lebih 24 jam akan mengalami proses penguraian sehingga senyawa-senyawa alami yang terkandung di dalamnya lebih mudah terekstraksi. Senyawa tersebut diketahui memiliki potensi mengganggu aktivitas hama sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati. Menurutnya, pemanfaatan bahan alami seperti daun bayam liar tidak hanya memberikan nilai tambah terhadap tanaman yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berpotensi menekan biaya produksi petani karena bahan bakunya mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Tidak hanya menerima materi, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan pestisida nabati mulai dari proses persiapan bahan, peracikan hingga teknik pengaplikasian pada tanaman. Untuk memperkuat pemahaman peserta, tim KKN menyiapkan sampel pestisida nabati yang telah diracik sebelumnya beserta sampel ulat grayak sebagai media demonstrasi. Melalui demonstrasi tersebut, petani dapat melihat secara langsung potensi efektivitas pestisida nabati dalam membantu mengusir hama sebelum diterapkan di lahan tembakau masing-masing.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para petani aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai dosis penggunaan, frekuensi penyemprotan, teknik penyimpanan pestisida nabati, hingga perbandingan efektivitasnya dengan pestisida kimia. Diskusi tersebut menjadi wadah bertukar pengetahuan dan pengalaman antara pemateri, mahasiswa KKN, dan petani dalam mencari solusi pengendalian hama yang lebih aman, hemat, dan berkelanjutan.

Abdurrahman Saleh (K. Jali) selaku perwakilan perangkat desa sekaligus anggota kelompok tani menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN. Menurutnya, pelatihan semacam ini memberikan pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan oleh petani dalam kegiatan budidaya sehari-hari.

“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan dari adik-adik mahasiswa KKN ini. Sekarang kami jadi tahu bahwa daun bayam yang ada di pekarangan bisa dimanfaatkan sebagai pestisida, jadi lebih hemat dan tidak perlu selalu membeli obat kimia,” ungkap Abdurrahman Saleh.

Sementara itu, Ricky Wahyu Arisandi berharap inovasi sederhana tersebut tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat menjadi kebiasaan baru dalam praktik budidaya tembakau di Desa Tampojung Guwa.

“Melalui sosialisasi ini kami berharap pengetahuan petani mengenai pestisida nabati semakin bertambah. Ilmu yang diperoleh diharapkan terus dipraktikkan sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi petani tembakau di Desa Tampojung Guwa. Dengan semakin banyak petani yang memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar lingkungan, diharapkan budidaya tembakau dapat berlangsung secara lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pemanfaatan pestisida nabati berbahan daun bayam liar dapat menjadi salah satu solusi dalam mendukung pengendalian hama yang lebih aman bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian petani dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Ke depan, inovasi sederhana ini diharapkan dapat terus diterapkan dan dikembangkan sehingga mampu mendukung produktivitas tembakau tanpa bergantung sepenuhnya pada penggunaan pestisida kimia.

Author :

1. Ailine Nur Nasywa

2. SuciptoIrenna Maghfiroh Rhamadani
3. Syarif Hidayatullah Saeri

Editor : Olip / Extama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *