
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, memicu kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Tiga wilayah menjadi sorotan utama, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sejak (19/08/2026)
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui pemantauan satelit NOAA-20 hingga Kamis, 20 Agustus 2026, tercatat 1.487 titik panas di seluruh wilayah Kalimantan, dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan Tengah. Adapun data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan mencatat 750 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sepanjang 17–19 Agustus, dengan lonjakan tertajam pada 19 Agustus sebanyak 518 titik.
Kabut asap akibat kebakaran turut mengurangi jarak pandang di sejumlah daerah. Di Kalimantan Barat, asap yang cukup pekat dilaporkan mengganggu penerbangan di Bandara Supadio.
Di Kalimantan Tengah, kebakaran menjadi perhatian karena sejumlah titik api berada dekat permukiman warga. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mencatat 298 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 261,41 hektare sepanjang 1 Juni hingga 19 Agustus 2026, dengan kejadian terbanyak di Kecamatan Jekan Raya.
Kondisi lahan yang kering pada musim kemarau membuat api mudah meluas apabila tidak segera ditangani. Pemerintah pun memperkuat penanganan dengan melibatkan petugas pemadam, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, mengimbau masyarakat untuk segera melapor bila menemukan titik api agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau berhati-hati dan menghindari kegiatan yang dapat memicu kebakaran. “Saya harap pemerintah cepat bergerak dan bertindak, supaya kabut asap ini tidak semakin parah seperti beberapa tahun yang lalu,” ujar Intan, warga Palangka Raya, dikutip dari Kantamedia.com.
Kebakaran hutan di Kalimantan tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, pencegahan dan penanganan cepat diperlukan agar kebakaran tidak semakin meluas dan kabut asap tidak semakin mengganggu kehidupan warga.
Author : Novi / Extama

