Ketidakpuasan Warga Indonesia, Tren #KaburAjaDulu Viral di Media Sosial

Extama – Keresahan dan kekecewaan warga Indonesia terhadap berbagai permasalahan sosial yang semakin sering terjadi di Tanah Air memicu ketidakpuasan, terutama di kalangan generasi muda.

Pada Februari 2025, tagar #KaburAjaDulu menjadi topik hangat di media sosial, terutama di platform X. Tren ini merupakan bentuk menyuarakan kekecewaan anak bangsa terhadap sistem pemerintahan yang dinilai tidak berjalan dengan baik.

Maraknya penggunaan tagar #KaburAjaDulu disebabkan oleh berbagai faktor, seperti sulitnya mencari pekerjaan, biaya hidup yang semakin tinggi, kesenjangan sosial, korupsi, serta penegakan hukum yang dianggap kurang adil.

Kondisi ini semakin diperparah dengan kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada sektor pendidikan, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, larangan penjualan Gas LPG 3 kg di tingkat pengecer, serta persoalan di sektor kesehatan dan pendidikan yang menjadi prioritas pendukung.

Salah satu pengguna X, @zizahiro, membagikan kisahnya terkait tagar tersebut. “#KaburAjaDulu? sudah kabur sejak 2018, lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) melamar kerja ke PT Astra, Denso, Omron tidak ada yang menerima,” tulisnya.

“Mau kuliah tidak ada uang, yasudah aku kerja ke Malaysia diterima di PT Epson Kuala Lumpur. Sudah 4 tahun, 2023 aku pulang ke Indonesia, tetapi bukan buat kerja di Indonesia, ” tambahnya.

Ziza juga menjelaskan alasannya kembali ke Tanah Air. “Lanjut masuk Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) untuk kerja ke Jepang. Dan 2024 sampai sekarang 2025, aku kerja di Jepang tidak ingin pulang, bayangkan saja umur 25 tahun sudah tidak masuk standar kriteria kerja di Indonesia,” tutupnya.

Pengguna X lainnya, @androomed4, juga membagikan pengalaman serupa. “#KaburAjaDulu? sudah kabur sejak 2021, efek pandemi Covid-19, lalu terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), akhirnya menganggur,” tulisnya.

“Cari kerja susah, jadi selama menganggur mulai menaikkan minat dan keahlian di bahasa asing. Setelahnya dapat tawaran kerja di Singapura, try to apply dan di approve. Pajak kecil, gaji oke, lingkungan sehat. Tidak terasa sudah bekerja selama 4 tahun, ” tambahnya.

Fenomena migrasi tenaga kerja semakin nyata, seperti yang dialami @zizahiro dan @androomed4. Mereka memilih bekerja di luar negeri karena merasa peluang di dalam negeri terbatas.

Meski alasan dan waktu keberangkatan mereka berbeda, hal ini menunjukkan bahwa faktor utama keputusan mereka adalah kesempatan kerja yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2024 mencapai 4,91%, mengalami penurunan sebesar 0,41% dibandingkan Agustus 2023. Namun, jika dibandingkan dengan Februari 2024 yang mencatat angka 4,82%, terjadi sedikit kenaikan sebesar 0,09%.

Meskipun terjadi penurunan pengangguran dibandingkan tahun sebelumnya, data dari International Monetary Fund (IMF) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia tetap menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, mencapai 5,2% pada 2024.

Tren #KaburAjaDulu menjadi alarm bagi pemerintah agar segera mengambil langkah konkret. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemerintahan dan kondisi sosial ekonomi diperlukan agar generasi muda tidak merasa perlu meninggalkan Indonesia demi kehidupan yang lebih baik.

Author – (Sella/Ext)
Editor – (Ajeng/Ext)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *