
Extama – Kesetaraan gender dalam organisasi semakin menjadi perhatian utama, terutama terkait dengan peran wanita sebagai pemimpin. Wanita kini mampu menduduki posisi strategis di berbagai organisasi dan menunjukkan kinerja yang signifikan dalam membawa perubahan positif.
Kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dalam organisasi telah tumbuh pesat dalam dua dekade terakhir, terutama sejak banyak perusahaan global mulai menerapkan kebijakan keberagaman pada awal tahun 2000-an. Namun, keberagaman gender dalam kepemimpinan organisasi terus diperjuangkan di seluruh dunia.
Fenomena ini melibatkan perempuan profesional, aktivis gender, dan organisasi yang mendukung pemberdayaan perempuan. Dukungan juga datang dari perusahaan dan lembaga yang menerapkan kebijakan keberagaman gender dalam kepemimpinan mereka.
Fakta dan Tantangan Kesetaraan Gender
Di Indonesia, meskipun kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender terus meningkat, tantangan masih tetap ada. Sektor-sektor tertentu seperti teknologi dan konstruksi sering kali dianggap sebagai “wilayah pria”, sehingga wanita sering menghadapi hambatan dalam mencapai posisi kepemimpinan.
Data dari World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa perusahaan dengan keberagaman gender yang tinggi pada tingkat manajemen cenderung memiliki kinerja finansial dan produktivitas yang lebih baik. Fakta ini menjadi salah satu argumen kuat untuk mendorong partisipasi wanita pada posisi strategis.
Kesetaraan gender dalam organisasi diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, mendorong inovasi, dan memaksimalkan potensi sumber daya manusia. Wanita pemimpin sering kali membawa perspektif berbeda yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan.
Upaya untuk meningkatkan kesetaraan gender dilakukan melalui pelatihan kepemimpinan bagi perempuan, kebijakan afirmatif dalam promosi jabatan, serta perubahan budaya organisasi untuk menghapus stereotip gender. Selain itu, organisasi juga didorong untuk menyatukan keberagaman gender dalam struktur kepemimpinan mereka.
Kesetaraan gender bukan hanya persoalan moral, namun juga strategi bisnis yang cerdas. Dengan memberdayakan perempuan untuk mengambil peran sebagai pemimpin, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
Author – (Ira/Ext)
Editor – (Ajeng/Ext)

