
Meninggalnya Mario Calviano Guru, seorang balita berusia dua tahun, di Posko Pengungsian Bukit Puta, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan duka yang dalam sekaligus pertanyaan yang tidak bisa diabaikan. Bencana tidak berhenti ketika gempa reda. Bagi mereka yang selamat, perjuangan sesungguhnya justru berlanjut di tempat pengungsian.
Kondisi pengungsian seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat sementara untuk menyelamatkan warga dari bangunan yang terdampak gempa. Posko juga harus mampu memberikan perlindungan nyata, terutama bagi mereka yang paling rentan: balita, anak-anak, lansia, dan mereka yang membawa kondisi kesehatan tertentu dari sebelum bencana terjadi.
Dalam situasi pascabencana, kebutuhan pengungsi bukan hanya makanan. Selimut, pakaian hangat, air bersih, obat-obatan, akses layanan kesehatan, makanan bergizi untuk anak-anak, dan tempat tidur yang layak adalah kebutuhan dasar yang sama pentingnya. Bantuan yang datang, baik dari pemerintah maupun masyarakat, harus betul-betul membaca apa yang dibutuhkan di lapangan, bukan sekadar apa yang mudah dikirim.
Di sisi lain, kepedulian masyarakat juga menunjukkan bahwa penanganan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Donasi masyarakat, bantuan komunitas, relawan, hingga kontribusi para influencer dapat menjadi kekuatan besar untuk membantu memenuhi kebutuhan pengungsi. Namun, bantuan tersebut perlu dikoordinasikan agar tepat sasaran dan tidak menumpuk pada satu jenis kebutuhan saja.
Kisah Mario seharusnya tidak berhenti sebagai berita tentang seorang balita yang meninggal pascagempa. Kisah tersebut perlu menjadi evaluasi bersama mengenai bagaimana negara dan masyarakat memberikan perlindungan kepada korban bencana setelah mereka meninggalkan rumah dan masuk ke pengungsian.
Bencana memang tidak selalu dapat dicegah. Namun, risiko dan dampaknya terhadap kelompok paling rentan dapat diminimalkan. Karena itu, setiap posko pengungsian harus dipastikan bukan hanya mampu menampung, tapi juga mampu menjaga. Menjaga keselamatan, kesehatan, dan manusiawi selama masa pemulihan.
Mario mungkin telah pergi. Tapi kisahnya seharusnya menjadi pengingat yang tidak mudah dilupakan, bahwa keselamatan korban bencana tidak boleh berhenti di titik evakuasi. Mereka membutuhkan perlindungan sampai benar-benar mampu kembali menjalani kehidupan.
Author : Nadia / Ext
Editor : Sella / Ext

