
Extama – Universitas Bina Bangsa (UNIBA) menggelar kuliah umum bertajuk “Dangdut Bukan Sekadar Musik” dengan menghadirkan maestro dangdut Indonesia Rhoma Irama, pada Sabtu, 15 Februari 2025.
Acara ini merupakan bagian dari program Dangdut Goes to UNESCO, yang bertujuan memperkenalkan dangdut sebagai bagian dari budaya Indonesia yang layak mendapat pengakuan di tingkat internasional, termasuk dari UNESCO.
Dalam kuliah umum yang berlangsung di Auditorium Gedung D UNIBA, Rhoma Irama menegaskan bahwa dangdut bukan sekadar musik yang menghibur, tetapi juga bagian dari identitas nasional yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Musik dangdut yang menggabungkan unsur Melayu, India, dan Arab ini mencerminkan keberagaman budaya Nusantara serta menjadi simbol kebersamaan lintas generasi.
“Dangdut bukan hanya seni musik, tetapi juga ekspresi budaya yang merefleksikan kehidupan masyarakat. Lewat lirik-liriknya, dangdut menyampaikan pesan moral, sosial, hingga kritik terhadap fenomena kehidupan,” ujar Rhoma Irama dalam paparannya.
Untuk menjadikan dangdut sebagai Warisan budaya dunia, diperlukan sinergi antara pemerintah, seniman dan masyarakat luas. Salah satu upaya nyata yang tengah dilakukan adalah melalui program Dangdut Goes to UNESCO ini.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain:
1. Luthfi Wicaksana, Ketua Bidang Pemuda DPP
2. KNPI dan Ketua Panitia Nasional
3. Prof. Drs. M. Suparmoko, M.A., Ph.D, Pj. Rektor UNIBA
4. Dr. Ali Hanafi, S.E., S.H., M.Si, Ketua Umum DPP KNPI
Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPP KNPI, Luthfi Wicaksana, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam pelestarian budaya.
“Dengan kreativitas dan inovasi, anak muda bisa menjaga dangdut tetap relevan di tengah dinamika industri musik modern,” jelasnya.
Selain kuliah umum, acara ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan musik dangdut yang menampilkan berbagai artis lokal serta mahasiswa UNIBA. Para peserta juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan Rhoma Irama mengenai sejarah, perkembangan, dan tantangan dangdut di era digital.
Wahyu, perwakilan panitia KNPI, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap dangdut.
“Acara ini bertujuan mengenalkan dangdut di kalangan mahasiswa karena selama ini mahasiswa mulai meninggalkan dangdut dan lebih suka K-pop. Oleh karena itu, program ini diharapkan dapat membangun kembali kecintaan generasi muda terhadap dangdut sebagai warisan budaya Indonesia,” ujarnya.
Program Dangdut Goes to UNESCO yang melibatkan mahasiswa dan komunitas pemuda diharapkan dapat menjadi strategi efektif dalam mengedukasi generasi muda mengenai nilai dan filosofi di balik musik dangdut.
Dengan adanya kerja sama lintas sektor, diharapkan dangdut dapat memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya dunia serta semakin memperkokoh identitas nasional Indonesia di kancah internasional.
Acara ini ditutup dengan penandatanganan deklarasi dukungan untuk pengusulan dangdut sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, sebagai bentuk komitmen bersama dalam melestarikan dan memajukan dangdut di panggung global.
Author – (Alya/Ext)
Editor – (Ajeng/Ext)

