Makna Ramadan di Bangku Kuliah

Extama – Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, di mana kita melakukan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan saat ramadan, seperti tadarus di masjid, dan ngabuburit sore hari sambil memilih takjil.

Namun, bagi seorang mahasiswa, ramadan terasa berbeda, dan Reihan merasakannya. Pemuda yang kini berstatus mahasiswa ini bermonolog, “Seiring bertambahnya usia, terlebih ketika menjalani kuliah di bulan Ramadan, rasanya sangat berbeda, ya.”

Pagi itu ia melangkah menuju kampus dengan langkah yang lebih lamban dari biasanya. Matahari memang belum terlalu tinggi di langit, namun rasa dahaga sudah mulai mengusik dirinya.

Di tangannya tergenggam sebuah buku catatan yang semalaman ia pakai untuk menyelesaikan tugas. Kampus masih tampak seperti hari-hari biasanya, namun atmosfernya terasa berbeda.

Beberapa mahasiswa tampak lebih diam, sebagian lainnya terlihat mengantuk karena harus bangun sahur pada dini hari.
“Hei Han, semalam begadang lagi ya?” tanya Raka, sahabatnya, sambil menepuk bahu Reihan.

Reihan tersenyum samar. “Iya, tugas dari dosen Pak Arman. Tenggat waktunya hari ini.”
Raka menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. “Ramadan tetap saja tidak mengalahkan tugas kuliah.”

Mereka kemudian melangkah bersama menuju ruang kelas. Di Sepanjang koridor kampus, Reihan melihat beberapa mahasiswa membawa Al-Qur’an kecil, mungkin untuk dibaca di sela-sela waktu kosong. Pemandangan itu membuat hatinya menghangat.

Kuliah hari itu terasa lebih panjang dari biasanya, menunjukkan jam demi jam berlalu dengan lamban. Perut mulai terasa lebih kosong, tenggorokan mengering, dan kantuk datang silih berganti.

Namun di tengah rasa lelah itu, Reihan justru merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang sulit ia jelaskan.

Ketika kelas selesai, azan asar hampir berkumandang. Reihan duduk di taman kampus, memandangi langit yang kini mulai berubah warna, sambil memandangi langit tersebut ia bergumam pelan.
“Dulu waktu SMA, Ramadan rasanya cuma soal nunggu buka puasa.”

Ia tampak terhanyut dalam kenangan saat-saat ngabuburit bersama teman-teman di desa, berlarian membeli gorengan, lalu kembali ke rumah dengan wajah ceria yang dipenuhi tawa.

Kini, segalanya terasa lebih hening. Namun, mungkin, dia berpikir, ramadan memang mengalami perubahan seiring manusia mencapai kedewasaan. Bukan lagi sekadar menantikan azan magrib, melainkan menjadi ajang untuk belajar kesabaran, mengasah keteguhan, dan memahami diri sendiri lebih dalam.

Tak berselang lama dari lamunannya, ada Raka yang datang dengan membawa dua gelas es teh. Ia menjulurkan tangannya, “Ini, untuk berbuka nanti di masjid kampus,” ujarnya. Reihan menanggapi hal tersebut dengan senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya.

Kini langit semakin jingga, dan azan magrib akhirnya berkumandang. Di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang berbuka puasa bersama, Reihan menyadari satu hal. Ramadan memang terasa berbeda baginya sekarang. Namun, justru di perbedaan itulah ia mulai menemukan makna yang sesungguhnya.

Author : Reihan/Ext

Editor : Sella/Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *