
Extama – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi terpadu pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menyusul prediksi September sebagai puncak musim kemarau sekaligus periode krusial penanganan karhutla di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, dalam keterangannya dari Jakarta, Sabtu (5/9), menegaskan eskalasi penanganan darurat ini merupakan bentuk perlindungan negara secara menyeluruh terhadap masyarakat dan ekosistem. “Yang kita lindungi bukan hanya ekosistem di kawasan hutan, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan bergantung pada lingkungan sekitarnya. Karena itu, setiap langkah pengendalian diarahkan untuk mengurangi dampak terhadap kesehatan, aktivitas sosial, pendidikan, dan perekonomian masyarakat,” katanya.
Berdasarkan analisis meteorologi, potensi awan, dan perkembangan titik panas, pemerintah menjadwalkan penyemaian awan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terpadu di tiga zona prioritas. Di Jawa Timur, operasi berlangsung 3–9 September 2026 menggunakan pesawat CASA A2104, dengan fokus mendukung pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Arjuno, dan area rawan lainnya. Di Kalimantan Barat, operasi berlangsung 5–14 September 2026 menggunakan pesawat CASA 212 dengan dukungan logistik penuh dari BNPB. Adapun di Kalimantan Tengah, operasi berlangsung 6–14 September 2026 menggunakan armada serupa. Kedua wilayah Kalimantan ini mendapat perhatian intensif karena tingginya kerawanan karhutla dan kebutuhan pembasahan lahan gambut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB memastikan dukungan pesawat untuk OMC disiagakan secara optimal guna memaksimalkan peluang pertumbuhan awan hujan sekaligus mencegah munculnya titik api baru.
Di Sumatra, penanganan karhutla menunjukkan tren positif dengan kualitas udara di Pekanbaru (Riau) dan Jambi yang mulai membaik. Meski begitu, BNPB tetap menyiagakan helikopter patroli, pesawat OMC, dan helikopter water bombing untuk mengantisipasi dinamika cuaca. Sementara itu, penanganan darat dan pemantauan titik api di Papua Barat, yang sempat mencatat belasan titik api dengan ratusan hektare lahan terdampak, terus berjalan adaptif menyesuaikan karakteristik wilayah setempat.
Keberhasilan penanganan di udara ini disokong penuh oleh pergerakan di tingkat tapak. Pemerintah mengandalkan sinergi antara teknologi modifikasi cuaca dan aksi Satgas Darat gabungan. “Di saat Satgas Darat Karhutla yang memiliki komponen personel dari berbagai instansi/lembaga pusat dan daerah, Polri, TNI, Manggala Agni Kemenhut, BPBD, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan, terus melakukan giat pemadaman di lapangan, maka dukungan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi kunci dalam upaya penanganan karhutla untuk secepat mungkin bisa dipadamkan,” kata Dwi.
Author : Hanifa / Extama
Editor : Olip / Extama

