
Extama – Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, dan Gunung Ili Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengalami rangkaian erupsi beruntun hingga Senin (7/9/2026). Fenomena ini menjadi bagian dari rentetan vulkanik nasional yang terjadi dalam waktu berdekatan, bersamaan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Gunung Semeru. PVMBG menegaskan tidak ada keterkaitan sistemik antar-gunung karena masing-masing memiliki dapur magma dan proses vulkaniknya sendiri.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu yang dikutip dari Detikcom, Gunung Ibu meletus kembali pada Minggu malam pukul 22.48 WIT, dengan tinggi kolom letusan teramati mencapai 500 meter dari atas puncak kawah. Erupsi berlanjut pada Senin dini hingga pagi, yakni pukul 00.16 WIT dan 06.16 WIT, dengan tinggi kolom abu yang relatif sama.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong bergerak ke arah utara dan timur laut,” tulis laporan Badan Geologi.
Gunung Ibu berada pada Status Level II (Waspada). Warga maupun wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif dan menjauhi perluasan sektoral sejauh 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah bagian utara. Mereka juga wajib menggunakan masker dan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar rumah guna menghindari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sementara itu di Lembata, NTT, melansir laporan dari Suara.com, pos pengamatan mencatat Gunung Ili Lewotolok telah mengalami sedikitnya 1.873 kali gempa letusan hanya dalam periode 1 hingga 5 September 2026. Rentetan letusan kembali berlanjut pada Senin (7/9/2026) pagi sebanyak dua kali berturut-turut pada pukul 05.41 WITA dan 06.15 WITA, dengan memuntahkan kolom abu setinggi 600 meter yang disertai suara dentuman lemah hingga sedang.
Menurut rilis Antara NTT, status gunung tertahan di Level II (Waspada). Petugas PPGA Ili Lewotolok mengimbau masyarakat segera menutup rapat semua tempat penampungan air bersih agar terhindar dari racun abu vulkanik dan menjauhi radius bahaya 2 kilometer dari pusat aktivitas. Warga juga diminta tidak memasuki area sektoral selatan dan tenggara sejauh 3 kilometer demi mengantisipasi ancaman longsoran lava pijar dan awan panas.
Author : Novi / Extama

