Masih dalam suasana Hari Raya seharusnya menjadi momen penuh kehangatan untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan. Namun, bagi sebagian mahasiswa, pertemuan keluarga justru terasa menegangkan karena satu hal: pertanyaan basa-basi yang terlalu personal.
Lantas, mengapa pertanyaan seperti “Kapan lulus?” atau “Kapan nikah?” kerap menjadi beban mental?
Pertama, setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Mahasiswa tengah berjuang dengan skripsi, tekanan akademik, serta tantangan hidup yang tidak selalu terlihat. Pertanyaan “kapan” secara tidak langsung menciptakan standar, seolah keterlambatan adalah kegagalan.
Kedua, kurangnya empati dalam berkomunikasi. Niat mencairkan suasana sering kali tidak diiringi dengan kesadaran bahwa topik tersebut sensitif. Alih-alih terasa akrab, pertanyaan itu justru dapat memicu kecemasan dan overthinking.
Ketiga, terganggunya ruang privasi. Tidak semua hal layak dibahas di ruang publik, terlebih di meja makan keluarga. Tekanan sosial dalam situasi tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, bahkan terpojok.
Pada akhirnya, niat baik saja tidak selalu cukup. Diperlukan kepekaan untuk memahami batasan dan menghargai proses hidup masing-masing individu.
Daripada bertanya “kapan”, mungkin kita bisa mulai dengan pertanyaan yang lebih hangat dan manusiawi, seperti “Bagaimana kabarmu?” atau “Apa yang bisa kubantu?”. Menghargai perjalanan orang lain adalah bentuk kasih sayang paling tulus, terutama di hari yang fitri.
Author : Hanifah/Ext
Editor : Khaishya/Ext

