Kebebasan Pers Dimulai Sebelum Berita Diterbitkan



Selamat Hari Kebebasan Pers. Kami masih minta izin.

WPFD 2026 mengangkat tema “Shaping a Future at Peace” dan indeks kebebasan pers global 2026 mencatat angka terendah dalam 25 tahun.

Tetapi di kampus-kampus Indonesia, pers mahasiswa masih sibuk bernegosiasi dengan satu pertanyaan lama: “Boleh tidak kami menulis ini?”

Di sudut kampus, ada redaksi kecil yang sedang menimbang, bukan kata mana yang paling tepat, melainkan kata mana yang paling aman. Bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena tahu betul apa harganya.

Human Rights Watch menyebut pers mahasiswa Indonesia berhadapan dengan intimidasi, penyensoran, tuduhan pencemaran nama baik, bahkan pembredelan, dan dibiarkan tanpa payung hukum yang memadai.

Bahkan tahun lalu, di hari yang sama, Ketua Umum AJI Indonesia mengungkapkan bahwa pers mahasiswa juga menjadi sasaran sensor, tekanan institusi, bahkan serangan digital.

Indonesia sendiri berada di peringkat 129 dari 180 negara elit politik dan bisnis diidentifikasi sebagai pihak yang mengeksploitasi sistem hukum yang gagal melindungi pers secara memadai.

Indikator hukum mencatat penurunan paling tajam tahun ini pertanda bahwa jurnalisme semakin dikriminalisasi, bukan hanya di luar negeri, tetapi juga di sini.

Hari ini dunia merayakan kebebasan pers. Namun kebebasan itu sudah diuji jauh sebelum berita diterbitkan.

Jika hari ini kita masih harus memilih antara berani dan aman, antara jujur dan selamat, maka kebebasan pers yang kita rayakan itu milik siapa, sebenarnya?

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan “seberapa bebas pers kita?” melainkan “seberapa jauh kita bersedia jujur tentang ketidakbebasannya?”

Author : Olip/Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *