Krisis Energi & Nasib Mahasiswa Merantau: Di Antara Penghematan dan Ancaman Learning Loss



Extama – Kenaikan harga BBM global tidak hanya terasa di SPBU. Bagi mahasiswa perantau, dampaknya merembet jauh ke dalam keseharian. Biaya transportasi meningkat, harga bahan pokok ikut melonjak, dan pengeluaran harian anak kos kini menjadi semakin berat. Hal-hal sederhana seperti ongkos ojek ke kampus naik, harga makanan di warung langganan ikut merangkak, dan tagihan listrik kos kini terasa lebih mahal dari sebelumnya.

Kondisi ini memaksa mahasiswa untuk beradaptasi dengan cara hidup yang lebih hemat. Banyak yang mulai mengurangi frekuensi jajan, pilihan makan beralih ke yang lebih murah meskipun kurang bergizi, serta menekan penggunaan listrik di kos.

Bahkan, ada yang memilih untuk lebih sering diam di kamar agar tidak mengeluarkan biaya tambahan. Strategi ini mungkin berhasil menekan pengeluaran. Namun, penghematan ini sering kali berdampak pada kualitas hidup, seperti menurunnya fokus belajar, kelelahan, hingga stres karena tekanan finansial.

Di tengah situasi itu, wacana hybrid learning muncul sebagai salah satu tawaran solusi. Dengan tidak harus datang ke kampus setiap hari, sehingga diharapkan dapat mengurangi biaya transportasi dan pengeluaran harian. Secara teori, skema ini terdengar sebagai langkah yang efisien dan relevan.

Masalahnya, kenyataan di lapangan tidak selalu seindah teorinya. Pembelajaran daring tetap membutuhkan kuota internet yang stabil, perangkat yang layak, serta lingkungan belajar yang kondusif.

Bagi sebagian mahasiswa, terutama yang tinggal di kos dengan ruang terbatas dan kondisi yang kurang nyaman, belajar dari rumah justru menjadi tantangan tersendiri. Gangguan suara, keterbatasan ruang, hingga rasa jenuh sering kali menghambat proses belajar.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah soal kualitas pembelajaran itu sendiri. Muncul kekhawatiran akan terjadinya learning loss. Dalam sistem hybrid learning, interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa cenderung berkurang.

Diskusi tidak seintensif saat tatap muka, dan mahasiswa lebih mudah terdistraksi ketika belajar secara daring. Akibatnya, pemahaman materi bisa menjadi kurang mendalam, bahkan berpotensi tertinggal jika tidak diimbangi dengan disiplin belajar yang tinggi.

Pada akhirnya, mahasiswa dihadapkan di antara dua kebutuhan yang sama-sama mendesak: memilih untuk menghemat biaya hidup atau mempertahankan kualitas pembelajaran. Di sinilah peran kampus seharusnya hadir lebih konkret. Kampus dapat berperan dengan memberikan subsidi kuota, menyediakan fasilitas belajar yang nyaman, serta merancang metode pembelajaran yang tetap interaktif meskipun dilakukan secara daring.

Mahasiswa juga dituntut lebih adaptif dari sebelumnya. Mengatur waktu dengan baik, dan meningkatkan kemandirian dalam belajar. Dengan keseimbangan antara kebijakan yang tepat dan kesiapan individu, diharapkan krisis energi ini tidak sampai mengorbankan kualitas pendidikan mahasiswa di masa depan.

Author :  Maulida / Ext
Editor : Sella / Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *