Bahaya di Era Digital: Kasus Perundungan Semakin Meningkat

Perundungan atau yang sering disebut sebagai bullying semakin menjadi perhatian di masyarakat, terutama dengan adanya bullying di era digital.

Bullying merujuk pada perilaku penindasan yang disengaja, yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan untuk menyakiti secara berulang dan terus-menerus, baik secara fisik maupun mental.

Menurut Vidya, mahasiswa UNIBA menanggapi kasus bullying adalah tindakan yang menyakiti hati seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Bully itu tindakan yang mengandung unsur menyakiti hati orang. Walaupun tindakan yang orang lakukan tersebut secara nyata ataupun berupa sendiri, sehingga orang itu sakit hati dan tertindas.”

Vidya membagikan pengalaman kasus bullying yang pernah Ia temui di sekolah. Seorang anak kelas 3 SD sulit berbicara lancar.

“Saya pernah menemui kasus bullying dimana anak murid saya yang sudah kelas 3 SD masih sulit berbicara dengan lancar, jadi teman-temannya sering mengejek dengan cara merespon dia dengan kata ‘Nyenyenye’ seakan meledek ia yang belum bisa berbicara dengan lancar, terkadang ledek-ledekan nama orang tua juga.” lanjutnya dengan raut wajah yang memprihatinkan.

Tak hanya di dunia nyata, saat ini sosial media menjadi tempat bullying yang sangat sering terjadi hal ini sering disebut Cyberbulliying. Dimana orang-orang banyak melontarkan kalimat ejekan atau umpatan kepada orang lain.

Cyberbulliying ini sangat meresahkan para pengguna platform sosial media. Karena hal ini bisa berdampak pada kesehatan mental seorang pengguna sosial media pada korban.

Berbagai kasus Cyberbulliying terjadi dengan berbagai macam bentuknya. Berupa ancaman, intimidasi, pelecehan, dan penghinaan yang menyebar luas melalui media sosial, pesan teks, atau platform digital lainnya.

Untuk mengatasinya, perlu meningkatkan kesadaran akan bahayanya bullying, memberikan pendidikan tentang empati, membangun hubungan yang positif antara guru, siswa, dan orang tua, serta mengambil tindakan tegas terhadap pelaku.

Author – (Dina/Ext)
Editor – (Waty/Ext)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *