
Extama — Peringatan Hari Kartini yang masih hangat dalam Bulan April ini di Kota Serang tahun ini terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada sekadar upacara dan kebaya, tapi ada sesuatu yang lebih nyata. Ratusan pelaku UMKM perempuan di Kota Serang membuktikan bahwa ruang domestik kini telah bertransformasi menjadi pusat ekonomi digital yang kompetitif. Gerakan yang menjadi langkah nyata dalam memutus stigma tradisional yang selama ini membatasi peran perempuan hanya pada urusan rumah tangga.
Pergeseran ini bukan terjadi dalam semalam. Selama beberapa tahun terakhir, semakin banyak ibu rumah tangga di Serang yang mulai merambah platform e-commerce dan media sosial untuk memasarkan produk mereka. Hal ini menunjukkan bahwa dominasi perempuan dalam sektor usaha mikro di Serang telah menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Ini bukan sekadar soal cari tambahan penghasilan, ini soal membuktikan bahwa perempuan bisa berdaya secara finansial tanpa harus memilih antara keluarga dan usaha. Serta membuktikan bahwa pendidikan dan akses informasi yang setara menjadi kunci utama emansipasi di era modern.
Di berbagai sentra industri rumahan, seperti di wilayah Kasemen dan Cipocok Jaya, perubahan itu terasa langsung, transformasi pada cara pemasaran produk unggulan daerah. Produk kuliner tradisional dan kerajinan khas Banten kini dikemas secara lebih modern dan dipasarkan melalui jaringan digital nasional.
Selain memperluas jangkauan pasar, langkah ini juga berhasil memangkas ketergantungan pada perantara, sehingga ketergantungan pada perantara berkurang, dan pendapatan bersih yang diterima para perajin perempuan meningkat signifikan.
Pemerintah Kota Serang turut mendukung penuh ekosistem ini melalui penyediaan infrastruktur internet dan pelatihan literasi keuangan digital secara berkelanjutan. Fokus utamanya agar para pelaku usaha perempuan tidak hanya bisa masuk ke ekosistem digital, tapi juga bertahan dan berkembang di dalamnya.
Hasilnya mulai terlihat, peran perempuan Serang kini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan sebagai salah satu penopang nyata ekonomi di tingkat akar rumput. Refleksi Hari Kartini tahun 2026 ini pada akhirnya menegaskan bahwa semangat perjuangan literasi yang dulu disuarakan melalui surat-menyurat, kini telah menjelma menjadi kemandirian teknologi.
Perempuan-perempuan yang dulu dianggap cukup tinggal di rumah saja. Kini keberhasilan perempuan Serang dalam menembus sekat-sekat pasar digital menjadi bukti bahwa batasan fisik dapur tidak lagi mampu menghalangi produktivitas dan kreativitas mereka dalam berkontribusi bagi kemajuan daerah.
Author : Hanifa / Ext
Editor : Sella / Ext

