Pulang yang Tak Pernah Sampai



Masih di bulan April yang sama, bulan dimana kita merayakan hari Kartini, harinya perempuan.

Hari ketika senyum-senyum hangat terasa begitu berarti, dan kebanggaan sederhana direngkuh dengan penuh rasa.

Namun pada satu malam, kabar duka datang tanpa aba-aba, merenggut banyak wanita kuat yang belum sempat mengucapkan perpisahan.

Mereka pulang seperti hari-hari biasa, dengan tas yang menggantung di bahu, dengan rasa lelah yang setia mengikuti derap langkah, dan kerinduan yang diam-diam mengarah pada rumah yang menunggu.

Tetapi di malam itu, makna pulang seolah berubah arah. Di jalur KRL Bekasi yang sunyi nan dingin, perjalanan mereka tidak lagi lagi menuju hangatnya rumah, tidak menuju pelukan yang dirindukan, melainkan menuju tempat yang tak lagi bisa dijangkau.

Disana ada ibu yang tetap menunggu di meja makan, dengan nasi yang mulai mengeras, dan waktu yang perlahan-lahan habis dalam diam menanti seseorang yang tak kunjung datang.

Ada anak yang berdiri di depan pintu, menatap malam yang tak kunjung memberi jawaban, bertanya dengan polosnya hati, mengapa ibunya belum juga pulang.

Tidak bisa dipungkiri, kita sering berbicara tentang ikhlas, namun bagi mereka yang mengalami kehilangan, kata itu terasa seperti menerima sesuatu
yang bahkan belum sempat dimengerti.

Kita juga menyebut sabar,
meskipun mereka belum tahu cara menyembuhkan luka.

Biarkan air mata mengalir, karena di situlah kejujuran paling utuh berada, lebih tulus daripada kata-kata yang dipaksakan untuk kuat.

Cukup kirimkan doa dan belasungkawa, untuk mereka yang ditinggalkan, dan untuk mereka yang telah pergi, semoga menemukan pulang terbaiknya di tempat yang abadi.

Author :  Winda / Ext
Editor : Sella / Ext

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *