
Extama – Perkembangan media sosial telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk cara seseorang menampilkan aktivitas keagamaannya. Fenomena ini sering disebut sebagai flexing ibadah, yaitu memamerkan aktivitas ibadah di media sosial.
Tidak jarang kita melihat unggahan berupa foto ataupun video seseorang ketika sedang beribadah, seperti membaca kitab suci Al-Quran, salat di masjid, mengikuti kajian, atau berbagi kegiatan sedekah. Pertanyaannya, apakah hal tersebut boleh dilakukan atau justru menjadi sesuatu yang bermasalah?
Namun, di satu sisi, membagikan aktivitas ibadah di media sosial dapat memiliki tujuan yang positif. Banyak orang yang mengunggah kegiatan ibadah dengan maksud untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan. Misalnya, seseorang membagikan kegiatan berbagi makanan kepada kaum membutuhkan agar orang lain terinspirasi melakukan hal yang sama.
Dalam konteks ini, media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan motivasi bagi masyarakat. Unggahan semacam ini dapat membangkitkan semangat beribadah dan memperkokoh nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di sisi lain, fenomena pamer ibadah juga menimbulkan kekhawatiran.
Tidak semua orang yang memamerkan ibadahnya memiliki niat yang tulus. Terdapat kemungkinan bahwa tindakan tersebut dilakukan demi memperoleh pengakuan, sanjungan, atau popularitas di ranah media sosial.
Ketika ibadah dilakukan untuk mendapatkan penilaian dari orang lain, maka esensi dari ibadah itu sendiri bisa berkurang. Ibadah pada dasarnya merupakan hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan yang seharusnya dilandasi keikhlasan, bukan untuk dipertontonkan. Selain itu, normalisasi flexing ibadah juga dapat memunculkan standar sosial yang tidak sehat.
Orang yang sering melihat unggahan ibadah orang lain mungkin merasa tertekan atau merasa dirinya kurang baik dalam beragama. Media sosial pada akhirnya dapat menciptakan semacam kompetisi tidak langsung mengenai siapa yang terlihat paling religius. Di sisi lain hal ini bagus untuk menciptakan jiwa kompetitif kita sebagai manusia agar lebih taat lagi, sehingga kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
Namun hal ini berpotensi menggeser makna ibadah dari yang bersifat spiritual menjadi sekedar citra di ruang digital. Tidak semua unggahan ibadah harus dianggap sebagai pamer. Yang terpenting adalah niat dan tujuan di baliknya. Jika seseorang membagikan aktivitas ibadah untuk tujuan edukasi, inspirasi, atau dakwah, maka hal tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Tetapi sebaliknya, jika dilakukan semata-mata untuk menunjukkan kesalehan pribadi, maka perlu direnungkan kembali.
Flexing ibadah di media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah maupun sepenuhnya benar. Hal ini sangat bergantung pada niat, cara penyampaian, dan dampaknya bagi orang lain.
Sehingga, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyikapi hal-hal yang ada di media sosial, terutama dalam hal yang berkaitan dengan aktivitas keagamaan. Ibadah seharusnya tetap berlandaskan keikhlasan, sehingga nilai spiritualnya tidak hilang hanya karena ingin mendapatkan perhatian di dunia maya.
Author : Novi / Ext
Editor : Sella / Ext

