
Extama – Setiap tahun, pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) selalu menghadirkan drama sosiologis yang sama. Tangkapan layar berwarna biru membanjiri media sosial, diiringi ucapan selamat yang tidak ada habisnya. Sementara mereka yang mendapati layar merah seolah dipaksa menanggung beban kegagalan yang tidak semestinya.
Fenomena ini mempertegas adanya “kasta” tidak tertulis dalam dunia akademis kita. Di mana nama kampus dibaca sebagai ukuran derajat seseorang. Kampus diperlakukan seperti merek, semakin besar namanya, semakin tinggi nilainya di mata publik. Pola pikir yang mendewakan institusi tertentu ini tidak hanya usang, tetapi juga berbahaya mengalihkan perhatian dari hal yang paling mendasar dalam pendidikan yaitu, proses belajar itu sendiri.
Memang, reputasi universitas tertentu bukan tanpa alasan. Sejarah panjang, jaringan alumni yang kuat, dan fasilitas yang memadai adalah faktor nyata. Namun, asumsi bahwa masa depan seseorang hanya dijamin oleh almamater tertentu adalah cacat logika.
Mendewakan institusi menciptakan ilusi bahwa kampus adalah mesin kesuksesan otomatis. Padahal, dunia kerja hari ini jauh lebih pragmatis. Industri tidak lagi sekadar membeli selembar ijazah dengan logo prestisius, mereka mencari kompetensi nyata, kemampuan berpikir, ketahanan mental, dan kecakapan memecahkan masalah.
Ketika kita habis energi mengejar gengsi nama besar, kita sedang melanggengkan stigma keliru bahwa kuliah di luar lingkaran kasta atas adalah sebuah akhir dari masa depan. Di era ketika pengetahuan bisa diakses oleh siapa saja lewat satu klik, variabel penentu keberhasilan bukan lagi di mana kita belajar, melainkan bagaimana kita belajar.
Mahasiswa di kampus mana pun yang aktif berorganisasi, mengambil sertifikasi profesional, dan secara konsisten mengasah keterampilannya, akan jauh lebih siap dari mahasiswa kampus top yang hanya mengandalkan nama besar almamaternya tanpa bergerak. Kampus hanyalah panggung. Aktor utamanya tetaplah diri sendiri.
Menghapus stigma ini dimulai dari cara kita merespons hasil seleksi. Bagi yang lolos ke PTN impian, selamat. Nama besar kampus anda adalah tanggung jawab yang harus dibuktikan dengan karya, bukan sekadar bahan flexing. Bagi yang belum berhasil, ketahuilah bahwa lembar cerita anda tidak berkurang nilainya.
Lolos SNBT adalah titik start, bukan puncak pencapaian. Pada akhirnya, dunia tidak akan bertanya apa warna jaket almamatermu, melainkan kontribusi apa yang bisa kamu berikan. Saatnya kita berhenti mendewakan institusi dan mulai menghargai proses perjuangan manusia di dalamnya.
Author : Hanifa / Ext
Editor : Sella / Ext

